RANCANGAN SATUAN LAYANAN
BIMBINGAN DAN KONSELING SMA
A. Judul layanan : Mengatasi Konflik
B. Bidang bimbingan : Sosial
C. Fungsi layanan :
· Preventif
· Kuratif
D. Jenis layanan dasar : Bimbingan Klasikal
E. Tujuan Layanan :
· Membantu siswa mengembangkan keterampilan menghadapi konflik yang dialami diri sendiri maupun orang lain.
· Menambah wawasan siswa mengenai cara mengatasi konflik.
· Menumbuhkan sikap kemandirian, kedewasaan, serta keterampilan siswa dalam memediasi sebuah konflik
F. Hasil yang ingin dicapai :
· Siswa mampu memahami pola hubungan dengan teman sebaya
· Siswa mampu menjalin hubungan yang baik dengan teman sebaya
· Siswa terampil mengatasi suatu konflik pribadi maupun sosial.
G. Sasaran layanan : Kelas XII
H. Uraian kegiatan :
Susunan :
| No. | Kegiatan Pembelajaran | Alokasi Waktu |
| 1. | Kegiatan awal · Pembukaan · Absen | 5menit |
| 2. | Kegiatan Inti: a) Guru pembimbing memberikan pertanyaan kepada siswa, mengenai konflik. b) Guru pembimbing menjelaskan tentang pengertian konflik c) Guru pembimbing memberikan wawasan siswa mengenai cara mengatasi konflik. d) Guru pembimbing mempersilakan siswa jika ada yang ingin didiskusikan. Evaluasi ‘Story Telling’ a) Guru pembimbing memberikan sebuah cerita kepada siswa, kemuadian siswa diminta menanggapi cerita tersebut. | 5menit 20menit 10menit |
| 3. | Kegiatan Akhir: Guru pembimbing memberikan ulasan tentang apa yang telah dipelajari hari itu. | 5 5menit |
I. Strategi Layanan : Klasikal
J. Metoda : Ceramah , Tanya Jawab , Story Telling
K. Waktu : 45menit
L. Semester : I
M. Penyelenggaraan layanan : Praktikan (Risma Ardiany)
N. Pihak yang diikutsertakan : Guru Pembimbing Lapangan (Bapak Drs.Rusdiyanto)
O. Alat perlengkapan : Lcd, Laptop/Komputer, Buku Catatan, Alat Tulis
P. Sumber : Purnama, Nursya’bani, Mengelola Konflik antar Kelompok dalam Organisasi, Usahawan No. 09 Th XXIX September 2000
Q. Rencana Penilaian : :
Proses:
1. Antusias siswa dalam mengikuti layanan
2. Keaktifan siswa dalam bertanya dan menanggapi pertanyaan
Hasil :
1. Siswa antusias dan memahami isi layanan yang dicerminkan melalui keaktifan diskusi dan tanya jawab antara praktikan dan siswa
2. Siswa diminta mengisi blanko penilaian hasil layanan informasi sebagai bahan analisis pemahaman siswa terhadap isi layanan.
R. Rencana tindak lanjut : Konseling/Bimbingan Kelompok jika diperlukan
S. Jumlah Pertemuan : 1 Kali Pertemuan
| | | Pleret, Agustus 2011 |
| | Mengetahui, | |
| Guru Pembimbing Drs.Rusdiyanto NIP. 19651216 199303 1 005 | | Praktikan Risma Ardiany NIM. 08104241011 |
MATERI
MANAJEMEN KONFLIK
A. Penyebab Konflik
Menurut Robbins (1996), konflik muncul karena ada kondisi yang melatar - belakanginya (antecedent conditions). Kondisi tersebut, yang disebut juga sebagai sumber terjadinya konflik, terdiri dari tiga ketegori, yaitu: komunikasi, struktur, dan variabel pribadi.
- Komunikasi.
Komunikasi yang buruk, dalam arti komunikasi yang menimbulkan kesalah - pahaman antara pihak-pihak yang terlibat, dapat menjadi sumber konflik. Suatu hasil penelitian menunjukkan bahwa kesulitan semantik, pertukaran informasi yang tidak cukup, dan gangguan dalam saluran komunikasi merupakan penghalang terhadap komunikasi dan menjadi kondisi anteseden untuk terciptanya konflik.
- Struktur.
Istilah struktur dalam konteks ini digunakan dalam artian yang mencakup: ukuran (kelompok), derajat spesialisasi yang diberikan kepada anggota kelompok, kejelasan jurisdiksi (wilayah kerja), kecocokan antara tujuan anggota dengan tujuan kelompok, gaya kepemimpinan, sistem imbalan, dan derajat ketergantungan antara kelompok. Penelitian menunjukkan bahwa ukuran kelompok dan derajat spesialisasi merupakan variabel yang mendorong terjadinya konflik. Makin besar kelompok, dan makin terspesialisasi kegiatannya, maka semakin besar pula kemungkinan terjadinya konflik.
- Variabel Pribadi.
Sumber konflik lainnya yang potensial adalah faktor pribadi, yang meliputi: sistem nilai yang dimiliki tiap-tiap individu, karakteristik kepribadian yang menyebabkan individu memiliki keunikan (idiosyncrasies) dan berbeda dengan individu yang lain. Kenyataan menunjukkan bahwa tipe kepribadian tertentu, misalnya, individu yang sangat otoriter, dogmatik, dan menghargai rendah orang lain, merupakan sumber konflik yang potensial. Jika salah satu dari kondisi tersebut terjadi dalam kelompok, dan para karyawan menyadari akan hal tersebut, maka muncullah persepsi bahwa di dalam kelompok terjadi konflik. Keadaan ini disebut dengan konflik yang dipersepsikan (perceived conflict). Kemudian jika individu terlibat secara emosional, dan mereka merasa cemas, tegang, frustrasi, atau muncul sikap bermusuhan, maka konflik berubah menjadi konflik yang dirasakan (felt conflict). Selanjutnya, konflik yang telah disadari dan dirasakan keberadaannya itu akan berubah menjadi konflik yang nyata, jika pihak-pihak yang terlibat mewujudkannya dalam bentuk perilaku. Misalnya, serangan secara verbal, ancaman terhadap pihak lain, serangan fisik, huru-hara, pemogokan, dan sebagainya
B. Manajemen Konflik
Untuk meminimalkan terjadinya konflik maka perlu adanya manajemen konflik yaitu mengelola konflik yang akan terjadi. Menurut Kreitner dan Kinicki (1995) dalam menangani konflik ada 5 gaya antara lain:
- Integrating (Problem Solving). Dalam gaya ini pihak-pihak yang berkepentingan secara bersama-sama mengidentifikasikan masalah yang dihadapi, kemudian mencari, mempertimbangkan dan memilih solusi alternatif pemecahan masalah. Kelemahan utamanya adalah memerlukan waktu yang lama dalam penyelesaian masalah.
- Obliging (Smoothing). Obliging lebih memusatkan perhatian pada upaya untuk memuaskan pihak lain daripada diri sendiri. Gaya ini sering pula disebut smothing (melicinkan), karena berupaya mengurangi perbedaan-perbedaan dan menekankan pada persamaan atau kebersamaan di antara pihak-pihak yang terlibat. Kekuatan strategi ini terletak pada upaya untuk mendorong terjadinya kerjasama. Kelemahannya, penyelesaian bersifat sementara dan tidak menyentuh masalah pokok yang ingin dipecahkan.
- Dominating (Forcing). Orientasi pada diri sendiri yang tinggi, dan rendahnya kepedulian terhadap kepentingan orang lain, mendorong seseorang untuk menggunakan taktik “saya menang, kamu kalah”. Gaya ini sering disebut memaksa (forcing) karena menggunakan legalitas formal dalam menyelesaikan masalah. Kekuatan utama gaya ini terletak pada minimalnya waktu yang diperlukan. Kelemahannya, sering menimbulkan kejengkelan atau rasa berat hati untuk menerima keputusan oleh mereka yang terlibat.
- Avoiding. Kekuatan dari strategi penghindaran adalah jika kita menghadapi situasi yang membingungkan atau mendua (ambiguous situations). Sedangkan kelemahannya, penyelesaian masalah hanya bersifat sementara dan tidak menyelesaikan pokok masalah.
- Compromising. Gaya ini menempatkan seseorang pada posisi moderat, yang secara seimbang memadukan antara kepentingan sendiri dan kepentingan orang lain. Ini merupakan pendekatan saling memberi dan menerima (give-and-take approach) dari pihak-pihak yang terlibat. Kekuatan utama dari kompromi adalah pada prosesnya yang demokratis dan tidak ada pihak yang merasa dikalahkan. Tetapi penyelesaian konflik kadang bersifat sementara dan mencegah munculnya kreativitas dalam penyelesaian masalah.
C. Kesimpulan
Bagaimanapun cara kita untuk mengelola konflik, tetap diperlukan keinginan dari dalam diri kita untuk mengelolanya. Kedewasaan dan kecerdasan mengelola emosi merupakan kunci mengelola konflik. Kata Daniel Goleman (1995), kecerdasan emosi tidak lebih dari kemampuan seseorang untuk menguasai dan mengendalikan emosi dirinya dan emosi orang lain, kecakapan mengelola diri sendiri dan berhubungan dengan orang lain. Itu sebabnya, kecerdasan emosi setidaknya mensyaratkan dua hal kecakapan pribadi dan kecakapan sosial. Ketika kita bisa mengendalikan emosi kita maka kita mampu mengelola konflik dengan baik untuk tujuan yang menguntungkan organisasi.
D. EVALUASI :
Nana adalah seorang siswi kelas X. Ia memiliki wajah yang cantik. Semua orang senang melihatnya. Nana seorang yang pendiam, ia tidak banyak bicara dan tidak banyak bertingkah. Jika ada yang menyapanya, ia hanya tersenyum sembari menganggukan kepalanya. Sikapnya yang demikian semakin membuat orang lain penasaran terhadap diri Nana. Selama mengikuti MOS, Nana tidak pernah melakukan pelanggaran. Namun ia diperlakukan tidak wajar oleh salah satu seniornya. Ia sering dihukum tanpa alas an yang kuat. Tapi karena Nana seorang pendiam, ia selalu menjalankan hukuman seniornya. Waktu terus berlalu, MOS pun berakhir. Para siswa sekarang sudah mulai mengikuti pelajaran, begitupula dengan Nana.
Sudah beberapa hari KBM dimulai, Nana tidak terlihat di sekolah. Guru dan teman-temannya merasa heran, kenapa Nana tidak pernah datang ke sekolah. Lalu terdengarlah kabar bahwa Nana merasa tidak nyaman dengan perlakuan salah satu kaka kelasnya. Kata salah satu teman dekat Nana, ternyata masalah Nana dengan kaka kelasnya berawal saat masa pendaftaran siswa baru. Sikap Nana yang diam dinilai angkuh oleh kaka kelasnya. Kemudian timbullah rasa tidak suka terhadap diri Nana.
- Termasuk ke dalam kategori apakah penyebab konflik yang terjadi antara Nana dengan kaka kelasnya?
- Jika kalian berada di posisi Nana, hal apa yang akan dilakukan untuk menyelesaikan konflik tersebut?
