BLOGGER TEMPLATES Funny Pictures

Jumat, 23 Desember 2011

my crocs collection


Senin, 05 Desember 2011

TAKE HOME PSIKOTHERAPY


No
Aspek
Tokoh
Islitah
Konsep dasar
Identifikasi Gangguan
Fokus Treatmen
Teknik
1
RET
Alberl Ellis
·  Antecedent event
·  Beliefs
·  Consecuence
·  Discutting
·  Affective new phylosofi
Feeling
·  RET adalah pendekatan yang berasumsi bahwa manusia dilahirkan dengan potensi,baik untuk berfikir rasional dan jujur maupun untuk berfikir irasional dan jahat
·  Berfikir dan emosi bukan dua proses yang berpisah
·  Perasaan takut
·  Bersalah
·  Berdosa
·  Cemas
·  Was-was
·  Marah
konseling RET atau yang lebih dikenal dengan rational emotive behavior therapy (REBT) adalah konseling yang menekankan dan interaksi berfikir dan akan sehat (rasional thingking), perasaan (emoting), dan berperilaku (acting). Bahwa teori ini menekankan bahwa suatu perubahan yang mendalam terhadap cara berpikir dapat menghasilkan perubahan yang berarti dalam cara berperasaan dan berperilaku.

·  Asertif training
·  Sosiodrama
·  Self modeling
·  Social modeling
·  Reinforcement
·  Desensiitisasi sistematis
·  Relaksasi
·  Self control
·  Home town
·  Role playing
2
Behavior
·    Ivan Petrovich Pavlov
·    John B Warson,
·    Edward Lee Thorndike
·    J.B.F Skinner,
·    Albert Bandura
·   Positive Reinforcement
·   Negatif Reinforcement
·   Hukuman
·   Hadiah
·   Stimulus Kontrol
·       Konsep dasar yang dipakai behavior terapy adalah belajar. Bbelajar adalah perubahan TL yg disebabkan karena kematangan
Kecemasan dan Depresi
Mengungkapkan keadaan dari setiap perilaku yang menyimpang, meningkatkan kesadaran emosional dalam kaitannya dengan pengalaman pribadi, mengidentifikasi semua factor yang berhubungan dengan perilaku yg tidak sesuai dan mengembangkan cara yg tepat untuk mengatasinya.
·  Desensitisasi sistematis
·  Terapi implosive
·  Latihan perilaku asertif
·  Terapi aversi
·  Pembentukan perilaku model
·  Kontrak perilaku
3
Person Cebtered
Carl Rogers
·   Congruen
·   Empathy
Unconditional Positive Regard
·    Individu memiliki kapasitas untuk membimbing,mengatur,mengarahkan, dan mengendalikan dirinya sendiri apabila ia diberikan kondisi tertentu yang mendukung
·    Individu memiliki potensi untuk memahami apa yang terjadi dalam hidupnya yang terkait dengan tekanan dan kecemasan yang ia rasakan.
·    Individu memiliki potensi untuk mengatur ulang dirinya sedemikian rupa sehingga tidak hanya untuk menghilangkan tekanan dan kecemasan yang ia rasakan,tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan diri dan mencapai kebahagiaan

Tanggungjawab dan kesanggupan klien untuk menemukan cara-cara menghadapi kenyataan secara lebih penuh, klien yang harus menemukan tingkah laku yang lebih pantas bagi dirinya
·  Verbalisasi
·  Non verbal
·  Membuka diri
·  Ekspresi emosi
4
Analisis Transaksional
Erick Berne
·  Ego state
·  Transaksional
·  Games
·  Stroke
·  Egogram
·  Script
·  AT adalah pendekatan yang menekankan pada hubungan interaksional
·  Berakar pada pilsafat anti deterministic
·  Manusia mampu memahami dan membuagt keputusannya sendiri


·  Permission (pemberian kesempatan)
·  Protection (perlindungan)
·  Potency potensi)
5
Gestalt
Perls

Penerimaan tanggung jawab pribadi, hidup pada saat sekarang, pengalaman langsung yang merupakan kebalikan dari membicarakan pengalaman-pengalaman secara abstrak, penghindaran diri, urusan yang tidak selesai, dan penembusan jalan buntu.

Apa dan bagaimana-nya tingkah laku dan pada peran urusan yang tak selesai dari masa lampau yang menghambat kemampuan individu untuk bisa berfunfsi secara afektif
·  Permainan dialog
·  Latihan saya bertanggung jawab
·  Bermain proyeksi
·  Teknik pembalikan
·  Tetap dengan perasaan
6
Realistik
William glasser
Right, Responsible, Reality
·  Setiap manusia memiliki kebutuhan dasar meliputi kebutuhan bartahan hidup (survival), mencintai&dicintai (love and belonging), kekuasaan atau prestasi (power or achievement), kebebasan atau kemerdekaan dan kesenangan.


·  Role playing
·  Menggunakan humor
·  Ketrampian konfrontasi dan tidak menjanjikan maaaf
·  Membantu konseli mmerumuskan rencana untuk perubahan
7
Cognitif Behavior Therapi
Aaron Beck


·  Kecemasan
·  Depresi
·  Panic
·  Agoraphobia
·  Social phobia
·  Bulimia
·  Schizophrenia

· Teknik relaksasi
· Teknik pemantauan diri
· Teknik kognitif

8
Psikoanalisis
Sigmun freud
·  Id
·  Ego
·  superego
Menurut psikoanalisis, struktur kepribadian terdiri dari 3siste : id, ego, superego. Ketiganya adalah nama dari proses psikoanalisis, dan bukan agen yg terpisah. Fungsi kepribadian secara keseluruhan.
Penyimpangan mental dan saraf
Klien mencapai kesadaran diri,kejujuran,keefektifan dalam mengerjakan hubungan personal dlm menangani kecemasan secara realistis
·Asosiasi bebas
·Penafsiran
·Analisis mimpi
·Analisis atas resistensi
·Analisis transferensi

Jumat, 05 Agustus 2011

MANAJEMEN KONFLIK


RANCANGAN SATUAN LAYANAN
BIMBINGAN DAN KONSELING SMA
A.       Judul layanan                        :  Mengatasi Konflik
B.     Bidang bimbingan                   :  Sosial
C.     Fungsi layanan                        : 
·         Preventif
·         Kuratif
D.    Jenis layanan dasar                  :  Bimbingan Klasikal
E.     Tujuan Layanan                      :
·         Membantu siswa mengembangkan keterampilan menghadapi konflik yang dialami diri sendiri maupun orang lain.
·         Menambah wawasan siswa mengenai cara mengatasi konflik.
·         Menumbuhkan sikap kemandirian, kedewasaan, serta keterampilan siswa dalam memediasi sebuah konflik
F.      Hasil yang ingin dicapai          :
·         Siswa mampu memahami pola hubungan dengan teman sebaya
·         Siswa mampu menjalin hubungan yang baik dengan teman sebaya
·         Siswa terampil mengatasi suatu konflik pribadi maupun sosial.
G.    Sasaran layanan                       : Kelas XII
H.    Uraian kegiatan                       : 
Susunan                                   :
No.
Kegiatan Pembelajaran
Alokasi Waktu
1.
Kegiatan awal
·   Pembukaan
·   Absen

5menit

2.
Kegiatan Inti:
a)        Guru pembimbing memberikan pertanyaan kepada siswa, mengenai konflik.
b)        Guru pembimbing menjelaskan tentang pengertian konflik
c)        Guru pembimbing memberikan wawasan siswa mengenai cara mengatasi konflik.
d)       Guru pembimbing mempersilakan siswa jika ada yang ingin didiskusikan.
Evaluasi ‘Story Telling’
a)      Guru pembimbing memberikan sebuah cerita kepada siswa, kemuadian siswa diminta menanggapi cerita tersebut.

5menit

20menit





10menit
3.
Kegiatan Akhir:
Guru pembimbing memberikan ulasan tentang apa yang telah dipelajari hari itu.

5                    5menit

I.       Strategi Layanan                     : Klasikal
J.       Metoda                                    : Ceramah , Tanya Jawab , Story Telling
K.    Waktu                                     : 45menit
L.     Semester                                  : I
M.   Penyelenggaraan layanan        : Praktikan (Risma Ardiany)
N.    Pihak yang diikutsertakan       : Guru Pembimbing Lapangan (Bapak Drs.Rusdiyanto)
O.    Alat perlengkapan                   : Lcd, Laptop/Komputer, Buku Catatan, Alat Tulis
P.       Sumber           : Purnama, Nursya’bani, Mengelola Konflik antar Kelompok dalam Organisasi, Usahawan No. 09 Th XXIX September 2000
      Q.  Rencana Penilaian       :                               :
Proses:
1.      Antusias siswa dalam mengikuti layanan
2.      Keaktifan siswa dalam bertanya dan menanggapi pertanyaan
Hasil    :
1.      Siswa antusias dan memahami isi layanan yang dicerminkan melalui keaktifan diskusi dan tanya jawab antara praktikan dan siswa
2.      Siswa diminta mengisi blanko penilaian hasil layanan informasi sebagai bahan analisis pemahaman siswa terhadap isi layanan.

R.     Rencana tindak lanjut      : Konseling/Bimbingan Kelompok jika diperlukan
S.      Jumlah Pertemuan            : 1 Kali Pertemuan


Pleret, Agustus 2011

Mengetahui,

Guru Pembimbing



Drs.Rusdiyanto
NIP. 19651216 199303 1 005

Praktikan



Risma Ardiany
NIM. 08104241011

MATERI
MANAJEMEN KONFLIK
A.    Penyebab Konflik
Menurut Robbins (1996), konflik muncul karena ada kondisi yang melatar - belakanginya (antecedent conditions). Kondisi tersebut, yang disebut juga sebagai sumber terjadinya konflik, terdiri dari tiga ketegori, yaitu: komunikasi, struktur, dan variabel pribadi.
  1. Komunikasi.
Komunikasi yang buruk, dalam arti komunikasi yang menimbulkan kesalah - pahaman antara pihak-pihak yang terlibat, dapat menjadi sumber konflik. Suatu hasil penelitian menunjukkan bahwa kesulitan semantik, pertukaran informasi yang tidak cukup, dan gangguan dalam saluran komunikasi merupakan penghalang terhadap komunikasi dan menjadi kondisi anteseden untuk terciptanya konflik.
  1. Struktur.
Istilah struktur dalam konteks ini digunakan dalam artian yang mencakup: ukuran (kelompok), derajat spesialisasi yang diberikan kepada anggota kelompok, kejelasan jurisdiksi (wilayah kerja), kecocokan antara tujuan anggota dengan tujuan kelompok, gaya kepemimpinan, sistem imbalan, dan derajat ketergantungan antara kelompok. Penelitian menunjukkan bahwa ukuran kelompok dan derajat spesialisasi merupakan variabel yang mendorong terjadinya konflik. Makin besar kelompok, dan makin terspesialisasi kegiatannya, maka semakin besar pula kemungkinan terjadinya konflik.
  1. Variabel Pribadi.
Sumber konflik lainnya yang potensial adalah faktor pribadi, yang meliputi: sistem nilai yang dimiliki tiap-tiap individu, karakteristik kepribadian yang menyebabkan individu memiliki keunikan (idiosyncrasies) dan berbeda dengan individu yang lain. Kenyataan menunjukkan bahwa tipe kepribadian tertentu, misalnya, individu yang sangat otoriter, dogmatik, dan menghargai rendah orang lain, merupakan sumber konflik yang potensial. Jika salah satu dari kondisi tersebut terjadi dalam kelompok, dan para karyawan menyadari akan hal tersebut, maka muncullah persepsi bahwa di dalam kelompok terjadi konflik. Keadaan ini disebut dengan konflik yang dipersepsikan (perceived conflict). Kemudian jika individu terlibat secara emosional, dan mereka merasa cemas, tegang, frustrasi, atau muncul sikap bermusuhan, maka konflik berubah menjadi konflik yang dirasakan (felt conflict). Selanjutnya, konflik yang telah disadari dan dirasakan keberadaannya itu akan berubah menjadi konflik yang nyata, jika pihak-pihak yang terlibat mewujudkannya dalam bentuk perilaku. Misalnya, serangan secara verbal, ancaman terhadap pihak lain, serangan fisik, huru-hara, pemogokan, dan sebagainya
B.     Manajemen Konflik
Untuk meminimalkan terjadinya konflik maka perlu adanya manajemen konflik yaitu mengelola konflik yang akan terjadi. Menurut Kreitner dan Kinicki (1995) dalam menangani konflik ada 5 gaya antara lain:
  1. Integrating (Problem Solving). Dalam gaya ini pihak-pihak yang berkepentingan secara bersama-sama mengidentifikasikan masalah yang dihadapi, kemudian mencari, mempertimbangkan dan memilih solusi alternatif pemecahan masalah. Kelemahan utamanya adalah memerlukan waktu yang lama dalam penyelesaian masalah.
  2. Obliging (Smoothing). Obliging lebih memusatkan perhatian pada upaya untuk memuaskan pihak lain daripada diri sendiri. Gaya ini sering pula disebut smothing (melicinkan), karena berupaya mengurangi perbedaan-perbedaan dan menekankan pada persamaan atau kebersamaan di antara pihak-pihak yang terlibat. Kekuatan strategi ini terletak pada upaya untuk mendorong terjadinya kerjasama. Kelemahannya, penyelesaian bersifat sementara dan tidak menyentuh masalah pokok yang ingin dipecahkan.
  3. Dominating (Forcing). Orientasi pada diri sendiri yang tinggi, dan rendahnya kepedulian terhadap kepentingan orang lain, mendorong seseorang untuk menggunakan taktik “saya menang, kamu kalah”. Gaya ini sering disebut memaksa (forcing) karena menggunakan legalitas formal dalam menyelesaikan masalah. Kekuatan utama gaya ini terletak pada minimalnya waktu yang diperlukan. Kelemahannya, sering menimbulkan kejengkelan atau rasa berat hati untuk menerima keputusan oleh mereka yang terlibat.
  4. Avoiding. Kekuatan dari strategi penghindaran adalah jika kita menghadapi situasi yang membingungkan atau mendua (ambiguous situations). Sedangkan kelemahannya, penyelesaian masalah hanya bersifat sementara dan tidak menyelesaikan pokok masalah.
  5. Compromising. Gaya ini menempatkan seseorang pada posisi moderat, yang secara seimbang memadukan antara kepentingan sendiri dan kepentingan orang lain. Ini merupakan pendekatan saling memberi dan menerima (give-and-take approach) dari pihak-pihak yang terlibat. Kekuatan utama dari kompromi adalah pada prosesnya yang demokratis dan tidak ada pihak yang merasa dikalahkan. Tetapi penyelesaian konflik kadang bersifat sementara dan mencegah munculnya kreativitas dalam penyelesaian masalah.
C.    Kesimpulan
Bagaimanapun cara kita untuk mengelola konflik, tetap diperlukan keinginan dari dalam diri kita untuk mengelolanya. Kedewasaan dan kecerdasan mengelola emosi merupakan kunci mengelola konflik. Kata Daniel Goleman (1995), kecerdasan emosi tidak lebih dari kemampuan seseorang untuk menguasai dan mengendalikan emosi dirinya dan emosi orang lain, kecakapan mengelola diri sendiri dan berhubungan dengan orang lain. Itu sebabnya, kecerdasan emosi setidaknya mensyaratkan dua hal kecakapan pribadi dan kecakapan sosial. Ketika kita bisa mengendalikan emosi kita maka kita mampu mengelola konflik dengan baik untuk tujuan yang menguntungkan organisasi.
D.    EVALUASI :
Nana adalah seorang siswi kelas X. Ia memiliki wajah yang cantik. Semua orang senang melihatnya. Nana seorang yang pendiam, ia tidak banyak bicara dan tidak banyak bertingkah. Jika ada yang menyapanya, ia hanya tersenyum sembari menganggukan kepalanya. Sikapnya yang demikian semakin membuat orang lain penasaran terhadap diri Nana. Selama mengikuti MOS, Nana tidak pernah melakukan pelanggaran. Namun ia diperlakukan tidak wajar oleh salah satu seniornya. Ia sering dihukum tanpa alas an yang kuat. Tapi karena Nana seorang pendiam, ia selalu menjalankan hukuman seniornya. Waktu terus berlalu, MOS pun berakhir. Para siswa sekarang sudah mulai mengikuti pelajaran, begitupula dengan Nana.
Sudah beberapa hari KBM dimulai, Nana tidak terlihat di sekolah. Guru dan teman-temannya merasa heran, kenapa Nana tidak pernah datang ke sekolah. Lalu terdengarlah kabar bahwa Nana merasa tidak nyaman dengan perlakuan salah satu kaka kelasnya. Kata salah satu teman dekat Nana, ternyata masalah Nana dengan kaka kelasnya berawal saat masa pendaftaran siswa baru. Sikap Nana yang diam dinilai angkuh oleh kaka kelasnya. Kemudian timbullah rasa tidak suka terhadap diri Nana.
  1. Termasuk ke dalam kategori apakah penyebab konflik yang terjadi antara Nana dengan kaka kelasnya?
  2. Jika kalian berada di posisi Nana, hal apa yang akan dilakukan untuk menyelesaikan konflik tersebut?