BLOGGER TEMPLATES Funny Pictures

Senin, 24 Mei 2010

1
KOMPETENSI YANG DIBUTUHKAN DALAM DUNIA KERJA
(Berdasarkan Tracer Studies FKMUI)*
Ahmad Syafiq, PhD
Sandra Fikawati, MPH
Latar Belakang
Perubahan yang cepat di dunia kerja sebagai akibat dari globalisasi dunia kerja
dan revolusi di bidang teknologi serta berbagai disiplin science lainnya menuntut
antisipasi dan evaluasi terhadap kompetensi yang dibutuhkan oleh dunia kerja.
Evaluasi juga penting dilakukan agar dunia pendidikan tinggi tidak terpisah
dan berjarak dari dunia kerja yang riil yang ada di masyarakat.
Beberapa pergeseran dalam hal kompetensi dunia kerja yang terjadi dewasa ini
meliputi dinamika hubungan antara pendidikan tinggi dan dunia kerja.
Observasi Teichler (1997; 1999); Yorke dan Knight (2006) terutama terkait
dengan jurang antara outcome pendidikan tinggi dan tuntutan kompetensi di
dunia kerja. Beberapa pergeseran penting yang terjadi meliputi terjadinya
peningkatan pengangguran terdidik baik pengangguran terbuka maupun
terselubung sebagai akibat dari massifikasi pendidikan tinggi, berubahnya
struktur sosio-ekonomi dan politik global yang mempengaruhi pasar dunia
kerja dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat sehingga
menyebabkan terjadinya bebagai perubahan-perubahan mendasar dalam hal
kualifikasi, kompetensi, dan persyaratan untuk memasuki dunia kerja.
Di bidang kesehatan masyarakat, informasi mengenai kompetensi baik dari
pihak lulusan maupun penggunan masih sangat kurang. Bidang kesehatan
masyarakat sebagi suatu disiplin science memiliki persama-persamaan pokok
dengan disiplin ilmu lainnya misalnya logis, empiris, sistematis, dan memenuhi
* Disampaikan pada Seminar Terbuka “Kompetensi Yang Dibutuhkan Dalam Dunia Kerja”
(Hasil Tracer Study FKM UI Tahun 2006), Ruang Sidang Doktor Gedung G FKMUI, 22 Feb 2007.
2
persyaratan-persyaratan filosofis seperti ontologi, epistemologi, dan aksiologi
serta etik. Meskipun demikian bidang kesehatan masyarakat memiliki karakter
unik yang mungkin berbeda dengan disiplin ilmu lain seperti sifat
multidisiplinaritas yang kuat, kombinasi pendekatan kuantitatif dan kualitatif,
kerjasama kelompok, kepemimpinan dan advokasi, serta interaksi yang intens
antara laboratorium dan masyarakat. Keunikan-keunikan tersebut perlu
mendapat penekanan agar kompetensi lulusan sarjana di bidang kesehatan
masyarakat melibatkan secara aktif berbagai komponen hardskill dan softskill
yang terkait dengan persiapan dunia kerja.
Sehubungan dengan fenomena pergeseran kompetensi dan relevansi dengan
pendidikan tinggi di bidang kesehatan masyarakat, aspek-aspek berikut ini
menyediakan informasi mengenai kompetensi kerja dan situasi riil yang ada
berdasarkan penelusuran terhadap lulusan FKMUI tahun 1993 sampai 2005.
Pencarian Kerja Setelah Lulus
Modus pencarian kerja yang dilakukan bersifat multimoda, yaitu dengan
memanfaatkan semua cara pencarian kerja seperti iklan koran, informasi melalu
teman, melalui dosen, dan informasi dari papan pengumuman di kampus.
Meski demikian informan juga umumnya ditawari pekerjaan, bahkan ada yang
ditawari pekerjaan sebelum lulus dari FKMUI. Hampir semua responden tidak
mengalami kesulitan dalam pencarian kerja pertama. Pencarian kerja untuk
pekerjaan pertama terutama melalui networking baik jaringan pertemanan
maupun dengan senior dan dosen.
Dalam kaitannya dengan networking dengan dosen, terungkap bahwa banyak
informan yang mengawali karir pertamanya dengan ikut dalam kegiatan
pendidikan, penelitian maupun layanan masyarakat yang dikerjakan oleh staf
pengajar FKMUI. Di satu sisi, situasi ini mencerminkan kedekatan hubungan
kerja antara dosen dan mahasiswanya yang dipercaya untuk membantu aktifitas
akademik baik itu penelitian maupun asisten akademik. Di sisi lain, hubungan
3
dalam rangka kerja (work relationship) ini, sebagai lanjutan dari hubungan dalam
rangka pendidikan (education relationship) memberi manfaat bagi lulusan
dengan cara memberikan kesempatan transisi dari dunia pendidikan ke dunia
kerja.
Hampir semua informan pernah mengalami pindah pekerjaan. Meskipun
pindah pekerjaan itu terjadi dalam satu instansi tetap dianggap sebagai pindah
kerja karena job description yang berbeda. Pada umumnya informan merasa
kurang atau tidak sesuai dengan pekerjaan pertamanya dan berencana untuk
pindah. Sedangkan di pekerjaan terakhir umumnya informan merasa betah dan
cukup puas serta tidak berencana pindah meskipun dilihat dari segi kesesuaian
dengan latar belakang pendidikan tidak selalu pekerjaan yang terakhir ini juga
sesuai. Tingginya mobilitas pekerjaan ini sebenarnya sudah terungkap dalam
Tracer Study I (Fikawati dan Syafiq, 2003) yang menyebutkan bahwa sejumlah
44% responden pernah berpindah kerja dan lebih dari 30% pernah berpindah
kerja minimal 2 kali. Alasan berpindah kerja umumnya terkait dengan prospek
karir yang dianggap kurang cerah atau pendapatan yang dirasakan kurang.
Pengalaman Pembelajaran di FKMUI
Kontribusi penting dari pengalaman belajar di FKMUI berdasarkan jawaban
informan dapat dipilah menjadi dua bagian besar yaitu pertama, kontribusi
terkait substansi keilmuan yang diperoleh melalui kuliah di kelas, dan kedua
kontribusi yang terkait dengan pola pikir dan kualifikasi softskill yang diperoleh
di luar kelas misalnya dalam pergaulan dengan teman, senior dan dosen, serta
pengalaman organisasi dan belajar di lapangan. Bahkan bagi sebagian
informan, kontribusi terbesar dari pengalaman belajar di FKMUI bukanlah pada
pembelajaran di dalam kelas tetapi justru diperoleh dari pengalaman belajar di
luar kelas seperti PBL dan magang, serta terlibat dalam kegiatan organisasi
kemahasiswaan.
4
Pelajaran-pelajaran yang dianggap relevan dengan dunia kerja meliputi
berbagai pelajaran yang merupakan ilmu alat (tools) dalam kesehatan
masyarakat seperti Biostatistika, Perencanaan dan Evaluasi, Manajemen, dan
Komputer sementara itu pelajaran seperti Anatomi Fisiologi dan Parasitologi
dianggap kurang relevan dan terlalu medis. Mata kuliah yang disebutkan
sebagai relevan adalah mata kuliah yang dapat diaplikasikan secara langsung
di dunia kerja.
Meskipun sebagian besar informan menyatakan puas dengan pembelajaran di
FKMUI, ada juga informan yang menyatakan bahwa kurang puas atau
ketidakpuasan karena ketidaksesuaian antara kuliah yang didapat dengan
pekerjaan. Sementara itu informan yang lain menyatakan ketidakpuasan dalam
kaitannya dengan kualitas pembelajaran yaitu kuliah yang tidak sesuai jadwal,
keterlambatan dosen atau materi kuliah yang kurang up to date.
Erat kaitannya dengan persepsi terhadap relevansi mata kuliah, persepsi lulusan
S1 terhadap kompetensi memasuki dunia kerja setelah lulus umumnya kurang
merasa kompeten dan kurang yakin terhadap kemampuan dirinya. Sebagian
informan menganggap bahwa FKM itu kurang memiliki ke”khas”an, dan
bersifat terlalu umum dibandingkan dengan disiplin ilmu lain. Data dari Tracer
Study I menunjukkan 78,2% responden menginginkan keterampilan yang lebih
spesifik (Fikawati dan Syafiq, 2003).
Di era globalisasi, kemampuan menembus batas-batas disiplin merupakan
kemampuan dari seorang sarjana yang penting dan sangat dihargai (Teichler,
2003; Schomburg, 2006). Jika dicermati memang salah satu keunggulan dari
pembelajaran di FKMUI adalah sifat dan karakter khas Kesehatan Masyarakat
sebagai disiplin ilmu yang multidisiplin. Kemampuan multidisiplin dan lintas
disiplin merupakan aset penting bagi keterampilan komunikasi dan kerja dalam
kelompok. Tetapi kesadaran mengenai pentingnya multidisiplinaritas nampak
masih kurang di kalangan mahasiswa dan lulusan yang menghendaki
5
keterampilan dan kemampuan yang lebih monodisiplin dan spesifik dibanding
multidisiplin dan generik. Meski demikian informan juga mengakui bahwa
bagaimanapun kuliah di FKM telah membekalinya dengan pola pikir yang
sangat diperlukan di dunia kerja.
Lebih lanjut Teichler (1999) mengungkap beberapa fenomena menarik
belakangan ini mencakup:
1. Kemampuan mengatasi ketidakpastian (uncertainty) merupakan kunci
untuk bertahan di dunia kerja
2. Pengetahuan yang spesifik memiliki kecenderungan cepat menjadi
usang (obsolete), di sisi lain keterampilan umum yang bisa digunakan
untuk mengatasi masalah dalam konteks professional dan
ketidakpastian pasar kerja harus menjadi dasar sistem belajar
mengajar di pendidikan tinggi
3. Persyaratan dunia kerja dewasa ini menunjukkan harmoni antara
ekonomi neoliberal yang global dan peningkatan tanggung jawab
sosial serta solidaritas secara bersamaan
4. Bergesernya anggapan bahwa pendidikan tinggi mempersiapkan
seseorang untuk bekerja menjadi mempersiapkan seseorang untuk
hidup lebih baik, karena kompetensi yang dibutuhkan untuk bekerja
saat ini begitu luas dan kompleks sehingga mempunyai hubungan
langsung dengan kebutuhan untuk kehidupan itu sendiri
5. Persyaratan kerja yang baru tampak semakin universal
Paul dan Murdoch (1992) menjelaskan menghadapi dunia kerja, seorang lulusan
perguruan tinggi harus dilengkapi dengan kualifikasi berikut ini agar dapat
bertahan dan unggul dalam kompetisi:
1. Pengetahuan umum dan penguasaan bahasa Inggris
2. Keterampilan komunikasi meliputi penguasaan komputer dan
internet, presentasi audiovisual, dan alat-alat komunikasi lain
6
3. Keterampilan personal meliputi kemandirian, kemampuan
komunikasi dan kemampuan mendengar, keberanian, semangat dan
kemampuan kerjasama dalam tim, inisiatif, dan keterbukaan
4. Fleksibilitas dan motivasi untuk maju yaitu kemampuan beradaptasi
sesuai perubahan waktu dan lingkungan serta keinginan untuk maju
sebagai pimpinan
Dalam hubungannya dengan ketidakpuasan terkait dengan kesenjangan antara
substansi yang diperoleh dari kuliah dengan kompetensi yang dibutuhkan di
dunia kerja, Kellerman dan Sagmeister (2000) menyatakan bahwa hal ini dapat
disebabkan oleh pertama, kenyataan bahwa sistem pendidikan tinggi memiliki
jarak dengan dunia kerja sehingga indikator-indikator keberhasilan studi tidak
dapat mengantisipasi kompetensi lulusan yang diperlukan untuk bekerja (under
qualification), atau kedua, dunia kerja mungkin tidak diorganisasikan dengan
baik sehingga keterampilan lulusan tidak dapat dimanfaatkan secara efisien
(under utilization), atau kemungkinan ketiga adalah lulusan memiliki
kemampuan yang melebihi syarat kompetensi di dunia kerja (over qualification).
Pendapat Atasan Mengenai Bawahan Lulusan FKMUI
Semua atasan menyatakan puas atau sangat puas dengan bawahan lulusan
FKMUI. Dari segi kompetensi, lulusan FKMUI dianggap memiliki kompetensi
yang baik dalam arti bisa diajak diskusi, tidak perlu banyak pengarahan, daya
tangkap cepat, hasil kerja membanggakan, dan lebih fokus. Jika dibandingkan
dengan lulusan non FKMUI hampir sama saja, tetapi ada atasan yang menilai
bahwa lulusan FKMUI lebih mudah berinteraksi dengan rekan kerja dari
berbagai latar belakang dan juga lebih mudah mengerti jika diberikan tugas.
Di samping kelebihan dari lulusan FKMUI, informan atasan memberikan
penilaian juga mengenai aspek yang harus ditingkatkan oleh bawahan lulusan
FKMUI termasuk dari segi perencanaan, pengolahan data dan statistik,
pengalaman riil di lapangan, aspek kepribadian dan softskill (keterampilan
7
lunak seperti komunikasi, toleransi, etika, budi pekerti, dan kualitas personal
lain) lainnya seperti keaktifan dan inisiatif. Semua atasan menyatakan puas atau
sangat puas dengan bawahan lulusan FKMUI. Temuan ini semakin
menegaskan pentingnya kemampuan yang bersifat multidisiplin serta
pentingnya softskill di dunia kerja.
Teichler (1997; 1998) menyampaikan hasil survei di Eropa yang menunjukkan
bahwa terlepas dari spesialisasi pendidikannya, lulusan perguruan tinggi
diharapkan dapat fleksibel mampu dan mau memberikan kontribusi terhadap
inovasi; mampu mengatasi ketidakpastian; siap untuk belajar sepanjang hidup;
memiliki sensitifitas sosial dan keterampilan komunikasi; mampu bekerja dalam
kelompok bertanggung jawab; menyiapkan diri untuk menghadapi kompetisi
internasional; memiliki pengetahuan di luar wilayah spesifik keahliannya;
mengerti bagaimana cara mengkombinasikan berbagai disiplin; dan kreatif.
Dalam kaitannya dengan keberhasilan pendidikan tinggi menembus dunia
kerja, Teichler (1999) menyebutkan 5 kriteria utama keberhasilan yaitu:
1. Transisi yang mulus dari pendidikan tinggi kedunia kerja meliputi
masa tunggu kerja yang singkat dan upaya pencarian kerja yang
sederhana.
2. Rasio pengangguran yang rendah
3. Rasio pekerjaan non reguler yang rendah
4. Kesuksesan lulusan secara vertikal dalam arti investasi pendidikan
memperoleh keuntungan atau pendapatan lulusan lebih tinggi
dibanding bukan lulusan atau rasio bekerja lulusan yang tinggi
5. Kesuksesan lulusan secara horizontal dalam arti hubungan yang erat
antara bidang studi dan jenis pekerjaan atau tingginya utilisasi
pengetahuan yang diperoleh selama pendidikan tinggi dalam
pekerjaan
8
Lebih lanjut Yorke dan Knight (2006) mengenalkan konsep ”ke-bekerja an”
(employability) atau kemampuan bekerja yang didefinisikan sebagai sekumpulan
pencapaian (achievement) meliputi keterampilan, pemahaman, dan atribut
personal yang lebih memungkinan lulusan untuk memperoleh pekerjaan dan
sukses dalam pilihan kerjanya serta memberi keuntungan bagi diri mereka
sendiri, tenaga kerja, masyarakat, dan ekonomi secara keseluruhan. Selanjutnya
Yorke dan Knight (2006) menjelaskan bahwa ”ke-bekerja-an” sangat terkait
dengan kapabilitas seperti dijelaskan oleh Stephenson (1998) bahwa lulusan
yang kapabel memiliki kemampuan untuk:
1. Mengambil tindakan yang efektif dan tepat
2. Menjelaskan apa yang ingin mereka capai
3. Hidup dan bekerja dengan yang lain
4. Dapat terus belajar baik secara individual maupun dengan yang lain
dalam masyarakat yang beragam dan terus berubah.
Dengan demikian hal ini sejalan dengan usulan dari beberapa atasan agar
mahasiswa FKMUI mendapat lebih banyak praktik di lapangan melalui
magang, praktik belajar di lapangan agar dapat lebih mengenal kenyataan di
lapangan kerja. Disarankan agar ditingkatkan kerjasama dengan pihak
pengguna lulusan dalam hal magang, PBL, dan penelitian serta penyusunan
kurikulum. Juga diusulkan agar kewirausahaan bisa ditanamkan juga terhadap
lulusan FKMUI.
Kesimpulan dan Saran:
1. Pengalaman bekerja di dunia akademik FKMUI (sebagai asisten
dosen, asisten peneliti, staf lapangan) merupakan pengalaman yang
berharga bagi mahasiswa dan lulusan sebagai periode transisi
memasuki dunia kerja di luar FKMUI. Dengan demikian disarankan
untuk lebih banyak melibatkan mahasiswa dan lulusan dalam
kegiatan-kegiatan akademik dan penelitian FKMUI.
9
2. Kemampuan multidisiplin, softskill, dan pengalaman lapangan harus
ditingkatkan dalam proses pembelajaran di FKMUI karena
merupakan kemampuan penting dan dihargai tinggi oleh dunia kerja.
Disarankan untuk memperbaiki dan menyempurnakan komponenkomponen
tersebut melalui kegiatan seperti magang dan PBL yang
disusun secara lebih sistematis, efektif, efiesien, dan melibatkan
pengguna lulusan FKMUI. Demikian juga dengan struktur mata
kuliah yang ada agar lebih banyak memasukkan aspek praktikal dan
situasi terkini yang ada di lapangan.
3. Tingkat kepuasan lulusan kurang baik dalam hal pengalaman
pembelajaran di FKMUI, dalam arti merasa banyak mata kuliah
yang tidak terpakai di dunia kerja dan merasa belum memiliki
kompetensi untuk bekerja setelah lulus. Hal ini diduga erat
kaitannya dengan perbedaan persepsi mengenai kompetensi sarjana,
persyaratan dunia kerja terkait dunia akademik. Disarankan untuk
menyamakan persepsi, pengetahuan, dan pengalaman mahasiswa
mengenai dunia kerja yang sesungguhnya sehingga tidak terjadi
perbedaan persepsi.
4. Tingkat kepuasan pengguna terhadap lulusan FKMUI dapat
dikatakan baik dan umumnya merasa puas dengan kinerja mereka.
Meskipun demikian disarankan untuk lebih meningkatkan
kemampuan kerjasama tim, bahasa Inggris, dan memperbanyak
pengalaman-pengalaman persentuhan dengan dunia kerja.
10
Daftar Pustaka
Brennan J, M Kogan and U Teichler. 1996. Higher Education and Work. Jessica
Kingsley Publication. London, Bristol, Pennsylvania.
Fikawati S and A. Syafiq. 2003. Tracer study: Sarjana Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Program Reguler Lulusan
Tahun 1993-2002. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.
Kellermann P and G Sagmeister. 2000. Higher education and graduate
employment in Austria. European Journal of education Vol 35 No 2 June 2000.
Schomburg H. 2006. UNISTAFF training materials. ISOS-Kassel University.
Kassel.
Syafiq A and S. Fikawati. 2007. Studi Kualitatif Tracer Sarjana dan Magister
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Fakultas Kesehatan
Masyarakat Universitas Indonesia.
Teichler U. 1997. Graduate employment: challenges for the higher education in
the twenty-first century. Higher Education in Europe Vol XXII No 1.
Teichler U. 1999. Research on the relationship between higher education and
the world of work: past achievements, problems and new challenges. Higher
Education Vol 38: 169-190
York M and PT Knight. 2006. Curricula for economic and social gain. Higher
Education 2006 Vol 51: 565-568

Rabu, 19 Mei 2010

Girl in Circles Blogger Template

Girl in Circles Blogger Template

Rabu, 05 Mei 2010

kariirrr

Senin, 03 Mei 2010

Mahalnya sebuah karir untuk wanita

nice story....


Mahalnya sebuah karir untuk wanita

Saya seorang ibu dengan 2 orang anak , mantan direktur sebuah Perusahaan
multinasional. Mungkin anda termasuk orang yang menganggap saya orang yang
berhasil dalam karir namun sungguh jika seandainya saya boleh memilih maka
saya akan berkata kalau lebih baik saya tidak seperti sekarang dan
menganggap apa yang saya raih sungguh sia-sia.

Semuanya berawal ketika putri saya satu-satunya yang berusia 19 tahun baru
saja meninggal karena overdosis narkotika.
Sungguh hidup saya hancur berantakan karenanya, suami saya saat ini masih
terbaring di rumah sakit karena terkena stroke dan mengalami kelumpuhan
karena memikirkan musibah ini.

Putera saya satu-satunya juga sempat mengalami depresi berat dan Sekarang
masih dalam perawatan intensif sebuah klinik kejiwaan, dia juga merasa
sangat terpukul dengan kepergian adiknya. Sungguh apa lagi yang bisa saya
harapkan.

Kepergian Maya dikarenakan dia begitu guncang dengan kepergian Bik Inah
pembantu kami.

Hingga dia terjerumus dalam pemakaian Narkoba.

Mungkin terdengar aneh kepergian seorang pembantu bisa membawa dampak
Begitu hebat pada putri kami.

Harus saya akui bahwa bik Inah sudah seperti keluarga bagi kami, dia telah
ikut bersama kami sejak 20 tahun yang lalu dan ketika Doni berumur 2
tahun.

Bahkan bagi Maya dan Doni, bik Inah sudah seperti ibu kandungnya sendiri.

Ini semua saya ketahui dari buku harian Maya yang saya baca setelah dia
meninggal.

Maya begitu cemas dengan sakitnya bik Inah, berlembar-lembar buku
hariannya berisi hal ini.

Dan ketika saya sakit (saya pernah sakit karena kelelahan dan diopname di
rumah sakit selama 3 minggu)

Maya hanya menulis singkat sebuah kalimat di buku hariannya "Hari ini Mama
sakit di Rumah sakit" , hanya itu saja.

Sungguh hal ini menjadikan saya semakin terpukul.

Tapi saya akui ini semua karena kesalahan saya.

Begitu sedikitnya waktu saya untuk Doni, Maya dan Suami saya.

Waktu saya habis di kantor, otak saya lebih banyak berpikir tentang
keadaan perusahaan dari pada keadaan mereka.

Berangkat jam 07:00 dan pulang di rumah 12 jam kemudian, bahkan mungkin
lebih.

Ketika sudah sampai rumah rasanya sudah begitu capai untuk memikirkan
urusan mereka.

Memang setiap hari libur kami gunakan untuk acara keluarga, namun
sepertinya itu hanya seremonial dan rutinitas saja, ketika hari Senin tiba
saya dan suami sudah seperti "robot" yang terprogram untuk urusan kantor.

Sebenarnya ibu saya sudah berkali-kali mengingatkan saya untuk berhenti
bekerja sejak Doni masuk SMA namun selalu saya tolak, saya anggap ibu
terlalu kuno cara berpikirnya.
Memang Ibu saya memutuskan berhenti bekerja dan memilih membesarkan kami 6
orang anaknya.

Padahal sebagai seorang sarjana ekonomi karir ibu waktu itu katanya sangat
baik.

Dan ayahpun ketika itu juga biasa-biasa saja dari segi karir dan penghasilan.

Meski jujur saya pernah berpikir untuk memutuskan berhenti bekerja dan mau
mengurus Doni dan Maya, namun selalu saja perasaan bagaimana kebutuhan
hidup bisa terpenuhi kalau berhenti bekerja, dan lalu apa gunanya saya
sekolah tinggi-tinggi?.

Meski sebenarnya suami saya juga seorangyang cukup mapan dalam karirnya
dan penghasilan.

Dan biasanya setelah ada nasehat ibu saya menjadi lebih perhatian pada
Doni dan Maya namun tidak lebih dari dua minggu semuanya kembali seperti
asal urusan kantor dan karir fokus saya.

Dan kembali saya menganggap saya masih bisa membagi waktu untuk mereka,
toh teman yang lain di kantor juga bisa dan ungkapan "kualitas pertemuan
dengan anak lebih penting dari kuantitas" selalu menjadi patokan saya.

Sampai akhirnya semua terjadi dan diluar kendali saya dan berjalan begitu
cepat sebelum saya sempat tersadar.

Maya berubah dari anak yang begitu manis menjadi pemakai Narkoba.

Dan saya tidak mengetahuinya!!! Sebuah sindiran dan protes Maya saat ini
selalu terngiang di telinga.

Waktu itu bik Inah pernah memohon untuk berhenti bekerja dan memutuskan
kembali ke desa untuk membesarkan Bagas, putera satu-satunya, setelah dia
ditinggal mati suaminya .. Namun karena Maya dan Doni keberatan maka
akhirnya kami putuskan agar Bagas dibawa tinggal bersama kami.

Pengorbanan bik Inah buat Bagas ini sangat dibanggakan Maya.
Namun sindiran Maya tidak begitu saya perhatikan. Akhirnya semua terjadi ,
setelah tiba-tiba jatuh sakit kurang lebih dua minggu, bik Inah meninggal
dunia di Rumah Sakit.

Dari buku harian Maya saya juga baru tahu kenapa Doni malah pergi dari
rumah ketika bik Inah di Rumah Sakit.

Memang Doni pernah memohon pada ayahnya agar bik Inah dibawa ke Singapore
untuk berobat setelah dokter di sini mengatakan bahwa bik Inah sudah masuk
stadium 4 kankernya.

Dan usul Doni kami tolak hingga dia begitu marah pada kami. Dari sini saya
kini tahu betapa berartinya bik Inah buat mereka, sudah seperti ibu
kandungnya!
menggantikan tempat saya yang seolah hanya bertugas melahirkan mereka saja
ke dunia.

Tragis !

Dan sebuah foto "keluarga" di dinding kamar Maya sering saya amati Kalau
lagi kangen dengannya. Beberapa bulan yang lalu kami sekeluarga ke desa
bik Inah.

Atas desakan Maya kami sekeluarga menghadiri acara pengangkatan Bagas sebagai
kepala sekolah madrasah setelah dia selesai kuliah dan belajar di pesantren.

Dan Doni pun begitu bersemangat untuk hadir di acara itu padahal dia
paling susah untuk diajak ke acara serupa di kantor saya atau ayahnya.

Dan difoto "keluarga" itu tampak bik Inah, Bagas, Doni dan Maya tersenyum
bersama.

Tak pernah kami lihat Maya begitu senang seperti saat itu dan seingat saya
itulah foto terakhirnya.

Setelah bik Inah meninggal Maya begitu terguncang dan shock, kami sempat
merisaukannya dan membawanya ke psikolog ternama di Jakarta.

Namun sebatas itu yang kami lakukan setelah itu saya kembali berkutat
dengan urusan kantor.

Dan di halaman buku harian Maya penyesalan dan air mata tercurah.

Maya menulis :
"Ya Tuhan kenapa bik Inah meninggalkan Maya, terus siapa yang bangunin
Maya, siapa yang nyiapin sarapan Maya, siapa yang nyambut Maya kalau
pulang sekolah, Siapa yang ngingetin Maya buat berdoa, siapa yang Maya
cerita kalau lagi kesel di
sekolah, siapa yang nemenin Maya kalo nggak bisa tidur..........Ya Tuhan ,
Maya kangen banget sama bik Inah" bukankah itu seharusnya tugas saya
sebagai ibunya, bukan bik Inah ?

Sungguh hancur hati saya membaca itu semua, namun semuanya sudah terlambat
tidak mungkin bisa kembali,

seandainya semua bisa berputar kebelakang saya rela berkorban apa saja
untuk itu.

Kadang saya merenung sepertinya ini hanya cerita sinetron di TV dan saya
pemeran
utamanya. Namun saya tersadar ini real dan kenyataan yang terjadi.

Sungguh saya menulis ini bukan berniat untuk menggurui siapapun tapi
sekedar pengurang sesal saya semoga ada yang bisa mengambil pelajaran
darinya.

Biarkan saya yang merasakan musibah ini karena sungguh tiada terbayang
beratnya.

Semoga siapapun yang membaca tulisan ini bisa menentukan "prioritas hidup
dan tidak salah dalam memilihnya". Biarkan saya seorang yang mengalaminya.

Saat ini saya sedang mengikuti program konseling/therapy untuk
menentramkan hati saya.

Berkat dorongan seorang teman saya beranikan tulis ini semua.

Saya tidak ingin tulisan ini sebagai tempat penebus kesalahan saya, karena
itu tidak mungkin! Dan bukan pula untuk memaksa anda mempercayainya, tapi
inilah faktanya.

Hanya semoga ada yang memetik manfaatnya.

Dan saya berjanji untuk mengabdikan sisa umur saya untuk suami dan Doni.

Dan semoga Tuhan mengampuni saya yang telah menyia-nyiakan amanahNya pada
saya.

Dan disetiap berdoa saya selalu memohon "YA Tuhan seandainya Engkau akan
menghukum Maya karena kesalahannya, sungguh tangguhkanlah Ya Tuhan,
biar saya yang menggantikan tempatnya kelak, biarkan buah hatiku tentram
di sisiMu".

Semoga Tuhan mengabulkan doa saya.











Mirna Abas
Pascasarjana Ilmu Ekonomi
Gedung PAU Ekonomi UI Lt. 1
Kampus UI
Phone : +62-21-78849152/53
Fax : +62-21-78849154

http://id.shvoong.com/humanities/1653759-11-kesalahan-wanita-di-dunia/